Pemimpin, Yang Dipimpin dan Sistem Kepemimpinan dalam Islam

1. pemimpin, yang dipimpin dan sistem kepemimpinan laksana masinis, kereta dan relnya | ketiganya harus baik, dan harus sesuai Islam

2. pemimpin yang tak baik laksana masinis yang tak ahli | walau kereta dan relnya betul, tak akan pernah sampai tujuan

3. bila ada masinis dan rel, namun kereta tak laik, hanya akan akibatkan kecelakaan | itu pentingnya yang dipimpin, harus betul juga

4. sama juga bila masinis dan kereta ada, namun relnya salah | salah arah bos! inilah pentingnya sistem kepemimpinan

5. jadi harusnya jangan hanya masalahkan siapa pemimpin dan siapa yang dipimpin | ada yang sama pentingnya, sistem kepemimpinan itu.

6. percuma pemimpinnya Muslim, yang dipimpin Muslim | tapi nggak menerapkan Islam, dijamin pasti rusak, Allah yang jamin

7. pemimpin Muslim tapi terapkan aturan kufur, itu sama rusak seperti pemimpin kafir dan terapkan aturan kufur | saa-sama membangkang Allah

8. kewajiban Islam memilih pemimpin dan dipimpin oleh Muslim, itu ditindaklanjuti dengan terapkan Al-Qur’an dan As-Sunnah | itu tujuannya

9. QS 4: 59 Allah tegaskan, pemimpin harus Muslim, agar ketaatan pada Allah & Rasul bisa wujud | agar Al-Qur’an dan As-Sunnah bisa diterap

10. terus, untuk apa pemimpin Muslim tapi Allah & Rasul diabaikan? Al-Qur’an dan As-Sunnah dipinggirkan? | tanya diri sendiri nih :)

11. apalagi dari awal sudah niat nggak mau terapkan syariat Islam | terus kita milih dia untuk menerapkan sistem selain Islam dong? yah..

12. maka harusnya nggak perlu dikotomis, pake kata “mending” dalam bandingkan 2 pilihan yg sama2 haram | seolah nggak ada pilihan lain

13. diantara 2 pilihan maksiat, syariat gariskan begini | selama bisa pergi dari kemaksiatan, nggak ikut2an, itu yang selemah-lemah iman

14. kalo ikut2an malah maksiat, ngomong malah maksiat, lebih baik diem deh | itulah selemah-lemah iman :)

15. sebagai penutup kisah, kami bagikan cerita saat mu’tazilah berkuasa dan pengaruhi pemimpin | hingga khalifah beraliran mu’tazilah

16. waktu itu sleuruh ulama dihadapkan pada 2 pilihan | mendukung paham mu’tazilah bahwa Al-Qur’an adl makhluk atau disiksa

17. saat itu ada ulama semisal Ibnu Duwad yg memihak mu’tazilah, ada Ahmad bin Hanbal yg rela disiksa demi pertahankan aqidah

18. ada pula ulama semisal Imam Syafi’i yang memilih mengasingkan diri ke luar lingkaran kekuasaan | membina ummat di akar rumput

19. saat mu’tazilah kuasai kepemimpinan | ada ulama yg membantah semisal Imam Ahmad, ada yg memilih diam membina ummat semisal Imam Syafi’i

20. tapi tiada ulama tsiqah (terpercaya) yang mengikuti paham mu’tazilah kan? :) | diantara pilihan-pilihan sulit, diam mungkin lebih sulit

21. menegakkan syariat memang perlu proses, karenanya ummat harus serius dibina | bila kekuasaan hanya ajak maksiat, sepantasnya diabaikan

22. jadilah ulama semisal Imam Ahmad yang dapatkan siksaan karena keyakinan | atau jadilah semisal Imam Syafi’i yang membina ummat

23. tak tersisa pilihan bagi kami untuk ikuti kekuasaan ahli-maksiat | terlalu bangga kami dengan Islam untuk kami tawar-menawar, afwan

24. tidak perlu kami khawatir akan cobaan dan hambatan yang menanti | karena cukup Allah sebagai wakil dan pelindung

25. bila lisan kami sebagai penentangan didengar | mudah2an diam kami tak mengikut kemaksiatan juga dihitung Allah :)

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s