Tentang Maksiat

01. seringkali | pelaku maksiat menutupi kemalasannya untuk taat, dengan mencari kesalahan yg telah taat dan menyalahkan ketaatannya
02. yang begini biasanya merasa dengan menyalahkan ketaatan seseorang | setidaknya melegitimasi dia untuk tak perlu taat
03. misal: “halah kerudungan diluar aja, hatinya kotor, munafik tuh” | padahal lisan semisal itu justru kotor sebenar
04. atau, “ngomongnya nggak pacaran, tapi ghibah melulu” | padahal yang beginian juga namanya ghibah🙂
05. bisa juga “banyak yg kerudungan masih maksiat, banyak kerudungan tapi tingkahnya parah” | eh eh eh pandai betul lihat salah🙂

06. manusia itu tempatnya salah dan lupa, dan sebaik-baik manusia adl yg bertaubat | Nabi Adam contohkan mulianya taubat
07. bila ada yang telah taat dengan hijab namun masih buat maksiat | salahkan maksiatnya, tidak ada hubungan dengan tutup aurat
08. agak kasarnya “bila yang sudah taat saja bisa maksiat, apalagi yang tak taat?” | mohon maaf gunakan retorika yang agak kasar
09. setiap niat baik akan dihitung Allah, apalagi yang sudah diamalkan | adapun khilaf yang masih ada, kita doakan semoga segera berubah
10. hijab yang dikenakan tiada dosa hingga layak disalahkan | bila engkau belum mampu, setidaknya jangan benci pada yang sudah taat
11. bilapun mesti menasihati, kenakan lisan yang baik dan niat yg tulus | bukan menyerang, bukan mengolok-olok, apalagi menghina
12. khawatir setan menyelip di niat, banggakan diri lebih baik | sementara dosa diri masih tertumpuk, mungkin lebih banyak dari yg dituduh?
13. setiap niat baik harus dihargai, jangan belum-belum sudah dipotong mati | ketegasan dan kelembutan baik bila disanding dalam nasihat
14. baik pula ingat kita pada masa yang lalu, tertatih kita jalani syariat | saat kita sudah lebih paham, bukan alasan berlaku kasar
15. lebih baik lisankan “subhanallah hijab engkau kenakan, kudoakan semoga akhlakmu seindah pakaianmu” | tulus, bukan nyinyir🙂
16. baik juga “semoga Allah memudahkanmu sempurnakan diri, sebagaimana Allah memudahkanmu kenakan hijab” | semangati, bukan patahkan hati
17. bila kepada kaum kafir saja kita harus perlakukan baik | maka saudaramu Muslim lebih layak diperlakukan apik
18. tentu harus diingat, bahwa bukan berarti melacurkan dalil, bukan berarti ingkari hukum | cara penyampaian, itulah kuncinya
19. Al-Qur’an seringkali keras untuk matikan kesombongan hati | namun tak kalah seringnya berikan kelembutan yang terbitkan harapan jiwa
20. itulah pengemban dakwah Islam | buat takut akan adzab Allah, juga terbitkan harapan kasih Allah | barakallahu fiikum

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s