Metode Rosululloh dalam Meraih Kekuasaan

Metode Rosululloh dalam Meraih Kekuasaan

Dalam judul tersebut di atas ada beberapa pertanyaan yang harus terjawab, agar kita mengetahui arti penting dari judul tersebut, setidaknya 3, yaitu:

  1. Apa itu yang dimaksud metode?
  2. Untuk apa kita meraih kekuasaan?
  3. Mengapa harus dengan metode Rosululloh SAW?

Nah dari sini, kita akan memahami arti penting dari judul tsb di atas.

Yang pertama, Metode, apa yang dimaksud dengan metode? Menurut kamus besar bahasa Indonesia, adalah cara teratur yg digunakan untuk melaksanakan suatu pekerjaan agar tercapai sesuai dng yg dikehendaki.

Sedangkan Menurut DRS. AGUS M. HARDJANA di carapedia.com, Metode adalah cara yang sudah dipikirkan masak-masak dan dilakukan dengan mengikuti langkah-langkah tertentu guna mencapai tujuan yang hendak dicapai.

Yang Kedua, Untuk apa kita meraih kekuasaan? Nah ini adalah pertanyaan yang cukup unik. Karena ini penting untuk kita ketahui dan pahami bersama. Nah untuk apa? Kalau kemudian pertanyaannya untuk apa, maka jawabannya adalah untuk melakukan perubahan dari tatanan kehidupan yang tidak/kurang islami menjadi lebih Islam. Mengapa kondisi sekarang dikatakan tidak/belum Islami, Kalau kemudian kita melihat, jawab pertanyaan berikut dari dihati kita masing2:

  1. Apakah semua perintah Allah SWT sudah ditunaikan dalam kehidupan ini?
  2. Apakah kemudian sudah ditinggalkan semua larangan-larangan Allah SWT dalam kehidupan ini?
  3. Sudahkah kita menerapkan ekonomi islam yang pasti mensejahterakan rakyat?
  4. Sudahkah kemudian kita meninggalkan riba/bunga bank dalam kehidupan kita, yg dosa terkecilnya adalah sama dengan memperkosa/zina dengan ibunya sendiri? Naudzubillah tsumma na’udubullah.

Nah, inilah pentingnya merubah kekuasaan. Dengan kekuasaan, ekonomi Islam bisa diterapkan. Dengan kekuasaan, aktifitas riba / bunga bank akan dihapuskan. Tidak akan pernah ada nilai RIBA dalam setiap transaksi utang piutang, dll. Nah itulah pentingnya melakukan perubahan kekuasaan.

Nah, yang lebih penting lagi bahwa kita telah diminta oleh Allah SWT, yang mana Allah SWT ini adalah Tuhan yang menciptakan alam semesta, manusia dan kehidupan, serta Tuhan yang menghidupkan dan mematikan manusia, agar kita bertaqwa dengan sebenar-benarnya taqwa kepada Tuhan kita Allah SWT.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. (QS Ali Imron: 102).

Para Pembaca yang dimuliakan oleh Allah SWT karena Iman dan Islamnya, Ayat ini sangat sering kita dengarkan ketika pada hari jum’at. Terutama kita yang sering menjadi Khotib di mimbar jum’ah, seperti berikut:

“Amma’ ba’du. Faya ayyuhal hadhirun ittaqullah haqqa tuqatih wa la tamutunna illa wa antum muslimun.”

Nah inilah pentingnya kita melakukan perubahan kekuasaan karena tuntutan perintah dan larangan Allah SWT, karena kita berupaya untuk Taqwa dengan sebenar-benarnya taqwa.

Nah, kemudian perubahan kekuasaa seperti apa yang kita lakukan untuk bisa bertaqwa dengan sebenar-benar taqwa? Khilafah Islamiyah. Ya, hanya dengan khilafah islamiyah kita bisa Taqwa dengan sebenar-benarnya taqwa. Dan khilafah islam ini juga, dulu dipakai oleh para shahabat Khulafaur Rosyidin, yaitu Abu Bakkar Ash Shidiq, Umar bin Khatab, Usman Bin Affan, dan Ali bin Abi Tholib, dst. Beliau-beliau ini menggunakan khilafah Islam dalam menjalankan kekuasaannya, dan beliau sebagai kholifah/pemimpinnya.

Nah selanjutnya, yang ketiga, yaitu: Mengapa harus dengan metode Rosululloh SAW? Nah yang menjadi pertanyaan bagi kita yg muslim adalah siapa Rosul Muhammad SAW ini bagi kehidupan kita? Orang biasakah? Orang hinakah? Tentu tidak. Beliau ini adalah Rosululloh, utusan Allah SWT dalam mengemban dakwah Islam kepada manusia dan Mukjizatnya adalah Al-Qur’an. Dan sebagaimana ketika beliau mau wafat, beliau sampaikan kepada malaikat Jibril, “Bagaimana Nasib umatku sepeninggal diriku?” Kemudian malaikat pun menjawab, “Itu bukan Hakku ya Rasul Ijinkan Aku kembali dulu nanti akan kukabarkan jawaban dari Allah “. Barulah kemudian keluarlah Hadist dari Rasulullah Bahwa kita Umatnya akan selamat kalau kita memegang Kitabullah dan memegang Sunnahnya Rasulullah.” Maka wajib mengikuti jalan hidup beliau, baik itu kepribadian beliau, sampai bagaimana beliau dakwah dalam meraih kekuasaan, sebagaimana beliau dalam meraih kekuasaan di madinah al munawaroh, kemudian disana diterapkan islam secara total, secara menyeluruh.

Dalam Hadist yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah. Hadist senada diriwayatkan pula oleh At-Tirmidzi, Abu Dawud, dan Ahmad:

“Hendaklah kamu bertakwa kepada Allah, dan mendengar serta taat (kepada pemimpin) meskipun ia seorang budak hitam. Dan kalian akan melihat perselisihan yang sangat setelah aku (tiada nanti), maka hendaklah kalian mengikuti sunnahku dan sunnah para khulafa’ rasyidin mahdiyyin (pemimpin yang lurus dan mendapat petunjuk), gigitlah ia dengan gigi geraham (berpegang teguhlah padanya), dan jauhilah perkara-perkara muhdatsat (hal-hal baru dalam agama), sesungguhnya setiap bid’ah itu kesesatan”

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَلَا تُبْطِلُوا أَعْمَالَكُمْ

Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan taatlah kepada rasul dan janganlah kamu merusakkan (pahala) amal-amalmu” (Qs. Muhammad: 33).

Para Pembaca yang dimuliakan oleh Allah SWT karena Iman dan Islamnya. Nah, Pada sesi terakhir ini kita akan membahas Metode Rosul SAW dalam meraih kekuasaan. Ada 3 tahapan dakwah yang beliau lakukan dalam meraih kekuasaan:

  1. Pembinaan dan pengkaderan umat

Dalam mengawali langkah dakwahnya, Rasulullah SAW. mendatangi orang-orang terdekat beliau dan secara terang-terangan mengajak orang-orang Makkah untuk masuk Islam. (Lihat: QS al-Mudatstsir [74]:1-2).

Rasulullah SAW melakukan kontak dengan orang-orang Makkah dan mengajarkan mereka al-Quran. Satu-persatu dari mereka memeluk Islam, Beliau kemudian memerintahkan kepada mereka yang lebih dulu memeluk Islam untuk mengajarkan al-Quran kepada yang lainnya. Beliau menjadikan rumah al-Arqam bin Abi al-Arqam sebagai pusat pembinaan.

Kemudian, Rasulullah SAW. dan para sahabatnya menjalankan aktivitas (shalat dan pengkajian Islam, pen.) secara sembunyi-sembunyi di Darul Arqam, yaitu setelah peristiwa perkelahian Sa‘ad bin Abi Waqash- (Sîrah al-Halabiyah. jilid I/456). Hal itu dilakukan Rasul dan para sahabatnya hingga tibanya dakwah secara terang-terangan, i‘lân (ekspose secara terang-terangan, pen.) pada tahun ke-4 setelah kenabian. (Ibid, jilid I/457).

Jumlah para sahabat Rasul SAW. selama tiga tahun pertama dakwahnya berjumlah 40 orang. Mereka membentuk kutlah (kelompok) yang siap mengemban dakwah. Mereka antara lain: Ali bin Abi Thalib yang berusia 8 tahun; Zubair bin Awwam, 8 tahun; Thalhah bin Ubaidillah, 11 tahun; Arqam bin Abi Arqam, 12 tahun; Abdullah bin Mas’ud, 14 tahun; Sa‘id bin Zaid, kurang dari 20 tahun; Sa‘ad bin Abi Waqash, 17 tahun; Mas‘ud bin Rabi‘ah, 17 tahun; Ja‘far bin Abi Thalib, 12 tahun; Shuhaib ar-Rumi, di bawah 20 tahun; Zaid bin Haritsah, 20 tahun; Utsman bin Affan, 20 tahun; Thalib bin Umair, 20 tahun; Khabab bin Arat, 20 tahun; Amir bin Fuhirah, 23 tahun; Mush‘ab bin Umair, 24 tahun; Miqdad bin Aswad, 24 tahun; Abdullah bin Jahsy, 25 tahun; Umar bin al-Khaththab, 26 tahun; Abu Ubaidah bin Jarrah, 27 tahun; Utbah bin Ghazwan, 27 tahun; Abu Hudzaifah bin Utbah, 30 tahun; Bilal bin Rabbah, 30 tahun; ‘Iyasy bin Rabi‘ah, 30 tahun; Amir bin Rabi‘ah, 30 tahun; Na‘im bin Abdillah, 30 tahun; Utsman, Abdullah, Qudamah, dan Sa‘’ib (semuanya adalah anak-anak Mazh’un bin Habib) yang masing-masing berusia 30, 17, 17, dan 20 tahun; Abu Salamah Abdullah bin Abd al-Asad al-Makhzumi, 30 tahun; Abdurrahman bin Auf, 30 tahun; ‘Ammar bin Yasir yang berusia antara 30 sampai 40 tahun, Abu Bakar Shiddiq, 37 tahun; Hamzah bin Abdul Muthalib, 42 tahun; dan Ubaidah bin Harits yang berusia 50 tahun. Di samping itu, terdapat beberapa kaum wanita yang telah beriman. (Taqiyuddin an-Nabhani, Dawlah al-Islâmiyah, hlm. 15-16. Lihat juga: Ibn Katsir, Bidâyah wa an-Nihâyah, jilid III/24-33).

  1. Berinteraksi dengan Masyarakat

Setelah Muhammad SAW membentuk kekuatan kelompok bersama para sahabatnya, Allah SWT. memerintahkan beliau keluar secara terang-terangan, sebelum dakwah ini di gulirkan Umar ra. bertanya kepada Rasulullah SAW.

“Wahai Rasulullah, bukankah kita berada di pihak yang benar?” “Benar, ya Umar. Kita berada di pihak yang benar.” “Kalau begitu, kenapa kita harus bersembunyi-sembunyi? Kenapa kita tidak beribadah di depan orang banyak dan mendeklarasikan Islam terang-terangan kepada mereka?”

Kemudian turunlah perintah dakwah secara terang-terangan. (Lihat: QS al-Hijr [15]: 94).

Dengan turunnya surat al-Hijr ayat 94, Rasul dan para sahabat turun ke jalan dalam dua barisan. Mereka berjalan mengelilingi Ka’bah sepanjang siang dalam rangka menunjukan eksistensi Islam, setelah itu Rasul dan para sahabat berdakwah dan menentang praktik-praktik dari aturan-aturan kota Makkah.

Muhammad SAW. dan para Sahabat ra. selalu berdakwah dan mengambil setiap kesempatan untuk mengungkap kesalahan dari cara pandang hidup yang selama ini dijalani orang-orang Quraisy. Beliau mencela korupsi, mengungkap masalah-masalah sosial, dan sistem pergaulan kaum Quraisy. Itulah yang telah dilakukan oleh Rasulullah dan para sahabat. Salah satu contohnya adalah ketika para Rasulullah dan para sahabat mencela praktik-praktik kotor ekonomi kaum Quraisy pada saat itu dengan membacakan firman Allah SWT :

]وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ[

Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang. (QS al-Mutaffifin [83]: 1).

Mereka membacakan Al-Qur’an di tengah-tengah masyarakat dalam rangka berdakwah dan menebarkan opini Islam, seperti yang di lakukan oleh Abdullah bin Mas’ud yang membacakan Al-Qur’an sambil berteriak di kerumunan aktivitas masyarakat Quraisy,hingga Abdullah bin Mas’ud di pukul dan di keroyok sampai pingsan. (baca : Shiriah Ibnu Hisyam)

Kelompok Muhammad SAW yang beranggotakan para Sahabat pun menantang para pemimpin Quraisy. Sebagai contoh, ketika Hamzah memeluk Islam, dia berhadapan dengan Abu Jahal sambil menantangnya dengan berkata, “Apakah engkau akan menghinakan kemenakanku (Muhammad) setelah aku menjadi pengikut agamanya?”

Allah SWT. telah menyerang orang-orang zalim, seperti dalam firman-Nya:

]تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ[

Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. (QS al-Masad [111]: 1).

  1. Meraih kekuasaan dengan cara Thalabun Nushrah

Walaupun semua itu telah dilakukan, Muhammad SAW. masih belum dapat mendirikan negara Islam. Karena itu, beliau menghabiskan seluruh upayanya dalam melakukan thalab an-nushrah (mencari pertolongan untuk meraih kekuasaan). Tentu saja tanpa aktivitas thalab an-nushrah dari orang-orang yang memilikinya tidak akan mungkin mampu menegakkan negara, serta menegakkan agama Allah SWT. di muka bumi. Perhatikanlah di semua buku-buku sirah Rasul, Kita akan melihat bahwa beliau menghabiskan waktu selama 3 tahun, pergi dari satu kabilah (suku) yang kuat ke kabilah kuat lainnya, mengajak mereka untuk membantu beliau meraih kekuasaan serta mengimplementasikan Islam. Secara keseluruhan beliau mengunjungi lebih dari 40 suku (kabilah) dengan satu tekad, yaitu mengajak mereka untuk masuk agama Islam dan membantu beliau untuk meraih kekuasaan sehingga Islam dapat diimplementasikan secara menyeluruh.

Muhammad SAW. senantiasa mengadakan mengajak dan menyeru kepala/ pimpinan kabilah-kabilah (suku-suku) yang ada. Setelah mengajaknya kepada Islam kemudian berdialog dengan kabilah Bani Amr bin Sa‘sa‘ah, mereka bertanya kepada Rasul SAW. “Siapa yang akan menjadi penguasa setelah engkau?”

Muhammad SAW. menjawab, “Allah akan memberi kekuasaan kepada siapa saja yang Dia kehendaki.”

Kemudian Rasulullah SAW. pun mengutus Mushab bin umair ra. ke Yastrib dalam rangka dakwah, hingga akhirnya suku Pemimpin ‘Aus dan Khazraj menerima dakwah Mushab bin umair kemudian terjadilah bai’atul ‘Aqabah. Setelah itu kaum muslimin mekkah hijrah ke yastrib atas perintah Rasulullah SAW., dan kemudian turunlah perintah hijrah kepada Rasulullah SAW. Sangat luar biasa, sambutan masyarakat yastrib ketika itu sangat-sangat meriah. Baik dari kalangan kaum muslimin, yahudi dan nashrani saat itu pun ikut menyambut kedatangan RAsulullah SAW. walaupun hati mereka tidak menerima. Kemudian mulailah Rasulullah SAW. mengatur Yastrib dengan awal mendirikan masjid dan membuat perjanjian-perjanjian kepada kaum kafir Yahudi dan Nashrani. Begitulah Daulah Islam pertama kali tegak. Dan Rosululloh sebagai pemimpin yang menjalankan kekuasaan dengan menerapkan Islam secara Total.

Yaa Allah…. Sudah hamba sampaikan, mudahkanlah para pembaca mendapatkan hidayah kepadanya. Amiin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s